3 Penyebab Kemarahan Secara Fisik

Marah atau ghadhab sebenarnya adalah situasi yang normal dan manusiawi karena sifat ini telah melekat pada tabiat dasar setiap manusia.

Meskipun sifat ini alami, seorang mukmin dituntut untuk senantiasa berusaha mengendalikan amarahnya dengan cara mengenali dan menjauhi sebab-sebab yang dapat memicu kemunculannya.

Kehidupan manusia sendiri terdiri dari dua unsur utama yang saling berkaitan, yaitu unsur jasmaniah (fisik) dan rohaniah (psikis), di mana keduanya memerlukan perhatian yang seimbang.

Dalam upaya mengelola emosi, aspek fisik atau jasmaniah memegang peranan yang sangat vital karena kondisi tubuh yang tidak stabil dapat menjadi pemicu utama kemarahan yang sulit dikendalikan.

Berikut tiga penyebab kemarahan secara fisik pada seseorang:

  1. Kelelahan yang Berlebihan

Faktor fisik pertama yang sering kali menjadi pemicu kemarahan adalah kondisi tubuh yang mengalami kelelahan ekstrem akibat aktivitas pekerjaan atau rutinitas yang padat.

Ketika seseorang merasa sangat lelah secara fisik, sistem saraf dan kondisi hatinya cenderung menjadi jauh lebih sensitif dibandingkan saat kondisi tubuh sedang bugar.

Dalam keadaan lelah, daya tahan emosional seseorang menurun drastis sehingga ia menjadi mudah tersinggung oleh hal-hal sepele yang pada akhirnya berujung pada ledakan amarah.

  1. Kekurangan Zat-Zat Tertentu dalam Tubuh

Penyebab fisik kedua berkaitan erat dengan kondisi biokimia di dalam tubuh, terutama saat otak kekurangan zat-zat tertentu seperti zat asam atau nutrisi penting lainnya.

Kekurangan unsur kimiawi ini dapat menyebabkan ketegangan pada otot-otot tubuh serta mengganggu kelancaran sistem pencernaan manusia.

Ketidakseimbangan reaksi kimia pada otak ini secara otomatis akan membawa perasaan tidak nyaman, membuat pikiran menjadi kacau, dan memicu rasa cepat tersinggung terhadap stimulus yang tidak menyenangkan.

  1. Reaksi Hormon Kelamin

Faktor fisik ketiga yang tidak kalah penting adalah pengaruh dari aktivitas hormon dalam tubuh yang dapat mengubah suasana hati secara signifikan.

Perubahan hormon ini sering kali membuat seseorang menjadi lebih sensitif dan mudah marah, contoh nyatanya dapat dilihat pada fenomena yang dialami perempuan saat mendekati siklus haid.

Kondisi yang sering disebut sebagai pre menstrual syndrome (PMS) ini ditandai dengan munculnya gejala perubahan suasana hati, kelelahan fisik, hingga depresi ringan yang secara kolektif meningkatkan potensi kemarahan.

Dengan memahami ketiga faktor fisik di atas, kita diharapkan dapat lebih bijak dalam menjaga kesehatan jasmani sebagai langkah awal untuk meredam munculnya sifat ghadhab.

Menjaga keseimbangan antara istirahat yang cukup, nutrisi yang terpenuhi, dan pengelolaan kesehatan hormonal adalah bagian dari ikhtiar seorang Muslim untuk menjaga kemuliaan akhlaknya.

Referensi:

Ahmad Taufik & Nurwastuti Setyowati. (2021). Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas X. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemendikbudristek. Cetakan Pertama. Halaman 210-212.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *