Sifat marah atau ghadhab sering kali dianggap sebagai sebuah kewajaran, namun jika tidak dikelola dengan benar, ia dapat berubah menjadi kekuatan destruktif yang merusak diri sendiri dan orang lain.
Meskipun dalam kondisi tertentu marah bisa menjadi bentuk ketegasan, secara umum amarah cenderung membawa dampak negatif karena merupakan hasil hasutan setan yang ingin menyesatkan manusia.
Oleh karena itu, Rasulullah SAW telah mengajarkan metode-metode praktis dan spiritual agar kita dapat mengendalikan api amarah tersebut sebelum menjadi ledakan yang tidak terkendali.
Berikut adalah lima cara menghindari sifat temperamental (ghadhab) sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW:
- Membaca Ta’awudz sebagai Perlindungan Spiritual
Langkah pertama yang paling mendasar saat api amarah mulai menyulut hati adalah segera memohon perlindungan kepada Allah SWT dengan membaca kalimat ta’awudz.
Mengingat bahwa amarah adalah perangai setan yang bertujuan untuk membakar akal sehat manusia, maka mengucapkan “A’udzu billahi minasy syaithonir rojiim” (Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk) menjadi benteng utama.
Dengan membaca kalimat ini, seseorang secara sadar mengakui kelemahannya dan memohon bantuan Ilahiyah agar perasaan marah tersebut tidak berkelanjutan menjadi tindakan yang keji.
- Merubah Posisi Fisik untuk Meredam Gejolak
Secara psikologis dan fisik, orang yang sedang marah cenderung merasa ingin lebih dominan atau lebih tinggi daripada sumber kemarahannya untuk meluapkan emosinya.
Rasulullah SAW memberikan terapi gerakan fisik yang sangat efektif, yakni jika seseorang sedang marah dalam posisi berdiri, hendaknya ia segera duduk.
Apabila kemarahan tersebut masih belum mereda setelah duduk, maka tindakan selanjutnya yang sangat dianjurkan adalah berbaring.
Posisi yang lebih rendah dari berdiri ke duduk, lalu ke berbaring, secara alami menurunkan tensi ketegangan otot dan memberikan ketenangan fisik agar amarah tidak meledak dalam bentuk kekerasan.
- Diam atau Tidak Berbicara
Sering kali saat marah, lidah manusia menjadi sangat tajam dan cenderung mengeluarkan kata-kata kasar yang nantinya akan disesali di kemudian hari.
Ketika emosi dalam diri meningkat, kendali atas lisan biasanya akan hilang, sehingga cara terbaik untuk memutus rantai kemarahan adalah dengan memilih untuk diam.
Berusaha untuk tetap tenang, rileks, dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun memberikan ruang bagi pikiran untuk kembali stabil dan mendinginkan suasana hati yang sedang memanas.
- Bersuci dengan Berwudhu
Sebagai makhluk yang diciptakan dari api, setan akan selalu berusaha meniupkan hawa panas ke dalam hati manusia yang sedang dalam kondisi emosional.
Karena api hanya dapat dipadamkan oleh air, maka berwudhu menjadi solusi fisik dan spiritual yang sangat mujarab untuk mendinginkan gejolak kemarahan tersebut.
Air wudhu memberikan efek tenang yang seketika merasuk ke dalam jiwa, sehingga “api” yang tadinya berkobar di dalam hati tidak sampai meledak dan menyakiti orang-orang di sekitar kita.
- Mengingat Wasiat Rasul dan Janji Allah SWT
Cara terakhir yang sangat mendalam adalah dengan senantiasa mengingat nasihat Rasulullah SAW yang selalu berulang kali mengingatkan, “Janganlah engkau marah.”
Bagi mereka yang mampu menahan amarahnya meski memiliki kesempatan untuk meluapkannya, Allah SWT telah menyiapkan balasan yang luar biasa di akhirat kelak.
Sebagaimana sabda beliau, orang yang mampu menahan amarah akan dipanggil oleh Allah SWT di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat untuk diberikan kebebasan memilih bidadari yang ia inginkan.
Kesadaran akan janji Allah ini seharusnya menjadi motivasi terbesar bagi setiap Muslim untuk lebih memilih kesabaran daripada memperturutkan hawa nafsu amarah yang sesaat.
Referensi:
Ahmad Taufik & Nurwastuti Setyowati. (2021). Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas X. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemendikbudristek. Cetakan Pertama. Halaman 214-215.
Tinggalkan Balasan