Mengkaji sejarah perjuangan dakwah di Nusantara tidak hanya memberikan wawasan masa lalu, tetapi juga warisan karakter yang sangat relevan untuk diterapkan saat ini.
Para ulama penyebar Islam telah mewariskan nilai-nilai luhur yang dapat menjadi panduan moral bagi kita dalam menjalani kehidupan bermasyarakat yang harmonis.
Berikut adalah lima penerapan karakter meneladani para ulama penyebar islam di indonesia dalam kehidupan sehari-hari:
- Mengedepankan Toleransi dalam Berpendapat
Salah satu karakter utama yang dapat kita terapkan adalah sikap selalu berhati-hati dalam mengutarakan pendapat di depan umum maupun di media sosial.
Penerapan karakter toleransi ini bertujuan agar setiap kata yang kita ucapkan atau tuliskan tidak sampai menyinggung perasaan orang lain yang memiliki pandangan berbeda.
Ulama terdahulu mengajarkan bahwa menghargai perasaan sesama manusia adalah bagian dari kemuliaan akhlak yang harus dijaga demi persatuan.
- Memiliki Karakter Bernalar Kritis dalam Menuntut Ilmu
Dalam era keterbukaan informasi saat ini, kita sangat perlu menerapkan karakter bernalar kritis dalam memperdalam ilmu agama maupun ilmu pengetahuan umum.
Penerapan nyata dari karakter ini adalah dengan memastikan bahwa kita belajar kepada kyai, ustadz, atau guru yang memiliki sanad keilmuan yang jelas.
Sangat penting bagi kita untuk mencari guru yang garis keilmuannya bersambung sampai kepada Rasulullah Saw. agar pemahaman kita tetap berada di jalur yang benar.
Belajar secara terprogram dan menghindari cara-cara instan atau otodidak tanpa konfirmasi dari ahli agama akan menghindarkan kita dari potensi kesesatan.
- Membangun Tanggung Jawab Melalui Hidup Sederhana
Penerapan karakter selanjutnya adalah menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap harta dan gaya hidup dengan cara menggunakan uang seperlunya saja.
Kita harus tetap menjaga kesederhanaan dalam hidup sehari-hari meskipun mungkin memiliki kemampuan ekonomi yang lebih dari cukup.
Sifat ini membantu kita terhindar dari perilaku hedonisme dan materialisme yang seringkali dapat memicu rusaknya tatanan sosial di lingkungan sekitar.
Dengan hidup sederhana, kita belajar untuk lebih peduli pada lingkungan sosial dan mendahulukan kebutuhan yang bersifat pokok serta bermanfaat bagi orang banyak.
- Mewujudkan Kebhinekaan Global Melalui Penghargaan atas Perbedaan
Sebagai bagian dari bangsa yang majemuk, kita perlu menerapkan karakter kebhinekaan global dengan menghargai setiap perbedaan pemahaman di tengah masyarakat.
Hal ini termasuk menghargai perbedaan dalam pengamalan ajaran agama maupun perbedaan latar belakang suku dan ras yang ada di sekitar kita.
Menghindari sifat merasa paling hebat atau paling benar sendiri adalah kunci untuk menjauhi kericuhan dan konflik dalam kehidupan beragama.
Keteladanan ulama dalam menyelaraskan ajaran Islam dengan tradisi lokal yang baik menunjukkan bahwa perbedaan bukanlah hambatan untuk hidup berdampingan secara damai.
- Berakhlak Mulia dengan Berdakwah secara Damai
Karakter terakhir yang sangat penting untuk diterapkan adalah senantiasa bersemangat dalam melakukan dakwah atau ajakan kebaikan secara damai.
Penerapan ini dapat dimulai dari lingkungan yang paling dekat, seperti di lingkungan rumah atau sekolah, dengan mengedepankan tutur kata yang santun dan menyejukkan.
Setiap tindakan kita harus mencerminkan nilai beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa melalui perilaku yang tidak mengandung hinaan atau ujaran kebencian.
Referensi:
Ahmad Taufik & Nurwastuti Setyowati. (2021). Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas X. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemendikbudristek. Cetakan Pertama. Halaman 140.
Tinggalkan Balasan