5 Sebab Secara Psikis yang Dapat Memunculkan Amarah Seseorang

Marah atau ghadhab sebenarnya merupakan situasi yang normal dan manusiawi karena sifat ini melekat pada tabiat dasar setiap manusia.

Namun, sebagai seorang mukmin, kita dituntut untuk mampu mengendalikan sifat tersebut dengan cara mengenali akar masalahnya, baik dari sisi fisik maupun psikis.

Secara psikis atau rohaniah, munculnya amarah sangat erat kaitannya dengan karakter serta kepribadian seseorang dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.

Berikut ini adalah lima sebab secara psikis yang dapat memunculkan amarah seseorang dan perlu kita waspadai:

  1. Sifat Ujub atau Bangga terhadap Diri Sendiri

Ujub adalah perasaan bangga yang berlebihan terhadap kelebihan yang dimiliki, baik itu berupa pemikiran, status sosial, keturunan, maupun kekayaan.

Sifat ini sangat dekat dengan kesombongan dan berpotensi besar memicu amarah apabila seseorang merasa tidak mendapatkan pengakuan atau penghormatan yang ia harapkan dari orang lain.

Ketika ekspektasi untuk dipuji tidak terpenuhi, ego yang terluka akan dengan mudah berubah menjadi api kemarahan yang dapat merugikan diri sendiri dan orang di sekitar.

  1. Terjebak dalam Perdebatan atau Perselisihan

Debat merupakan adu argumen antar pihak yang sering kali dilakukan untuk mempertahankan pendapat masing-masing dalam sebuah perbedaan.

Islam melarang terjadinya perdebatan yang tidak didasari oleh nilai-nilai kebenaran karena hal ini hanya akan memancing emosi dan mendatangkan permusuhan yang tidak berujung.

Rasulullah SAW bahkan menjanjikan rumah di tepi surga bagi siapa saja yang bersedia meninggalkan perdebatan meskipun ia berada di pihak yang benar, demi menjaga kesucian hati.

  1. Senda Gurau yang Melebihi Batas

Bercanda adalah hal yang lumrah dalam kehidupan sehari-hari, namun senda gurau yang melampaui batas dan menggunakan perkataan yang tidak berfaedah sering kali menyakiti hati.

Khalid bin Shafwan memberikan perumpamaan bahwa candaan yang berlebihan bagaikan menghantam seseorang dengan batu besar atau menyiramkan air yang mendidih ke kepala.

Meskipun pelaku berdalih “hanya bercanda”, ucapan yang merendahkan atau menyinggung fisik tetap berpotensi besar mengundang kemarahan yang serius.

  1. Ucapan yang Keji dan Tidak Sopan

Segala bentuk ucapan yang berupa celaan, hinaan, umpatan, atau perkataan yang menyesakkan dada merupakan pemicu utama munculnya amarah seseorang.

Apabila kita tidak mampu menjaga lisan, perkataan tersebut akan membuat orang lain merasa tersinggung dan terhina, yang kemudian memicu pertengkaran hebat.

Menjaga tutur kata agar tetap sopan bukan hanya soal etika, melainkan juga bentuk pengendalian diri agar tidak menciptakan rantai kebencian di tengah masyarakat.

  1. Memelihara Sikap Permusuhan kepada Orang Lain

Seseorang yang menyimpan bibit kebencian dalam hatinya cenderung akan melihat orang lain sebagai musuh dan selalu mencari-cari kesalahan mereka.

Sifat yang gemar mengolok-olok, mengadu domba, serta mencaci ini membuat seseorang sulit untuk merasa rida atau ikhlas atas keberadaan orang lain.

Kondisi hati yang dipenuhi permusuhan seperti ini sangat rentan memicu amarah yang meledak-ledak dan membuat perselisihan sulit untuk dihentikan.

Referensi:

Ahmad Taufik & Nurwastuti Setyowati. (2021). Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas X. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemendikbudristek. Cetakan Pertama. Halaman 210-212.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *