Sikap syaja’ah atau berani membela kebenaran dan keadilan bukanlah sifat yang muncul secara instan, melainkan buah dari keimanan yang mendalam.
Bagi seorang Muslim, keberanian adalah jalan menuju kemenangan iman, di mana rasa takut dan gentar seharusnya tidak lagi memiliki tempat di dalam hati.
Untuk menumbuhkan serta membiasakan karakter ini, diperlukan pola pembiasaan yang dilakukan secara terus-menerus dan berkelanjutan sejak dini.
Berikut adalah tujuh faktor pembentuk sikap berani membela kebenaran (syaja’ah) pada diri seorang muslim dalam kehidupan:
- Takut kepada Allah Swt.
Faktor paling mendasar yang melahirkan keberanian sejati adalah munculnya rasa takut yang besar hanya kepada Allah Swt.
Keyakinan seseorang bahwa setiap langkah yang ia ambil adalah dalam rangka menjalankan perintah Sang Pencipta akan menghapus rasa takut terhadap sesama makhluk.
Ketika orientasi batin seseorang telah terpusat pada ketaatan kepada Allah, niscaya tidak akan pernah muncul rasa takut terhadap risiko apa pun di dunia ini.
Sebab, ia menyadari bahwa kekuatan manusia sangatlah terbatas, sementara perlindungan Allah bersifat mutlak bagi mereka yang membela jalan-Nya.
- Mencintai Kehidupan Akhirat
Keberanian sering kali terhambat oleh keterikatan yang terlalu kuat terhadap kenyamanan duniawi.
Namun, bagi seorang mukmin yang sadar, dunia bukanlah tujuan akhir, melainkan hanyalah sebuah wasilah atau jembatan menuju kehidupan akhirat yang abadi.
Kesadaran ini membuat seorang Muslim tidak merasa takut akan kehilangan kenikmatan dunia, jabatan, atau harta benda selama ia tidak kehilangan kebahagiaan di akhirat.
Cinta yang besar kepada akhirat memberikan energi bagi seseorang untuk tetap berdiri tegak membela kebenaran meskipun harus mengorbankan kepentingan duniawinya.
- Tidak Takut Menghadapi Kematian
Kematian adalah sebuah keniscayaan yang pasti dialami oleh setiap makhluk yang bernyawa tanpa terkecuali.
Seorang Muslim yang berani memahami bahwa jika ajal sudah datang, tidak ada satu pun kekuatan di dunia ini yang mampu menghalanginya.
Sebaliknya, jika maut belum waktunya menjemput, maka tidak ada bahaya apa pun yang sanggup merenggut nyawa seseorang.
Oleh karena itu, setiap Muslim harus senantiasa melatih diri agar berani menghadapi kematian kapan pun ia datang, sehingga ia dapat berjuang dengan totalitas tanpa dihantui bayang-bayang ketakutan akan maut.
- Tidak Ragu-Ragu dengan Kebenaran
Keberanian lahir dari keyakinan yang kokoh, sedangkan ketakutan sering kali bersumber dari keraguan.
Seorang Muslim yang memiliki keyakinan penuh terhadap prinsip kebenaran dan keadilan akan selalu siap sedia menghadapi risiko apa pun yang mungkin timbul.
Untuk menghindari keragu-raguan, setiap Muslim dianjurkan untuk senantiasa berpedoman pada petunjuk Al-Qur’an, ajaran Rasulullah, serta norma-norma agama.
Dengan memiliki landasan ilmu dan iman yang kuat, seseorang tidak akan mudah goyah atau ragu dalam mengambil keputusan krusial di tengah situasi yang sulit.
- Tidak Materialistis
Dalam perjuangan membela kebenaran, ketersediaan materi memang diperlukan sebagai penunjang, namun materi bukanlah segalanya.
Seorang mukmin yang berani tidak akan mengalkulasi perjuangannya hanya berdasarkan keuntungan materil atau hitung-hitungan logis semata.
Ia memiliki keyakinan bahwa Allah Swt. Maha Mencukupkan rezeki hamba-Nya melalui sumber-sumber yang tidak pernah disangka-sangka sebelumnya.
Sifat tidak materialistis ini memungkinkan seseorang untuk berani berjuang, berkorban, dan bertawakal sepenuhnya kepada ketetapan Allah tanpa merasa khawatir akan kekurangan.
- Berserah Diri dan Yakin akan Pertolongan Allah Swt.
Keberanian yang benar harus diiringi dengan sikap tawakal yang tinggi kepada Allah Swt.
Orang yang berjuang di jalan Allah tidak akan pernah merasa takut karena ia selalu melakukan upaya maksimal sesuai prosedur yang diajarkan agama.
Upaya tersebut dilakukan dengan kerja keras yang dibarengi dengan doa yang tulus, kemudian menyerahkan sisa urusannya kepada kehendak Yang Maha Kuasa.
Keyakinan akan datangnya pertolongan Allah membuat hati menjadi tenang dan tetap stabil meskipun situasi di lapangan tampak sangat menyulitkan.
- Kristalisasi Pendidikan Karakter dari Keluarga, Masyarakat, dan Sekolah
Pembentukan sikap syaja’ah memerlukan waktu yang panjang serta keterlibatan aktif dari berbagai pemangku kepentingan (stakeholder).
Dibutuhkan sinergi dari empat pusat pendidikan utama, yakni campur tangan pola asuh orang tua dalam keluarga serta faktor habituasi dan adat istiadat di lingkungan masyarakat.
Selain itu, program penguatan karakter di sekolah serta kajian-kajian di majelis taklim memegang peranan penting dalam memperkokoh mentalitas pemberani.
Jika semua elemen ini berjalan searah, maka akan terbentuk karakter seseorang yang berjiwa pemberani, tidak pengecut, dan tidak lemah, namun tetap berpijak pada norma dan kaidah agama yang luhur.
Referensi:
Ahmad Taufik & Nurwastuti Setyowati. (2021). Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas X. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemendikbudristek. Cetakan Pertama. Halaman 225-226.
Tinggalkan Balasan