Sikap berani atau syaja’ah dalam Islam bukanlah sekadar konsep teori, melainkan sebuah nilai yang harus diwujudkan dalam tindakan nyata.
Keberanian yang hakiki lahir dari kedalaman iman dan keteguhan hati untuk selalu berpihak pada kebenaran di mana pun kita berada.
Berikut adalah tujuh implementasi dari sikap berani membela kebenaran yang dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari:
- Berani Menghadapi Musuh di Medan Pertempuran
Implementasi pertama yang paling nyata secara historis adalah keberanian dalam jihad fii sabilillah.
Generasi pertama umat Islam telah memberikan teladan luar biasa dengan menyambut panggilan jihad tanpa rasa takut akan kematian.
Ketangguhan mereka berakar pada sikap yang tidak terjebak pada hubbu ad-dunya (cinta dunia yang berlebihan) dan lebih mencintai kehidupan akhirat yang kekal.
Di abad ke-21, konteks jihad ini tidak harus selalu bermakna terjun ke medan perang fisik, melainkan dapat diwujudkan melalui semangat amar ma’ruf nahi munkar.
Kita dituntut untuk menggelorakan semangat Islam yang ramah, menanamkan nilai nasionalisme, serta membela negara sesuai dengan prinsip Islam rahmatan lil ‘alamin.
- Berani Mengatakan Kebenaran
Mengatakan kebenaran di tengah tatanan kehidupan yang penuh tekanan sering kali menjadi tantangan yang berat bagi seorang mukmin.
Banyak orang memilih menjadi pengecut dan “bermain aman” dengan menyembunyikan kebenaran karena takut akan risiko sosial atau ekonomi yang mungkin timbul.
Padahal, secara esensi, keberanian untuk jujur adalah bentuk kemuliaan harga diri yang diperintahkan langsung oleh Rasulullah Saw.
Hal ini ditegaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad:
عَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: كَلَّفَنِي خَلِيْلِي ﷺ أَنْ أَقُولَ بِالْحَقِّ وَإِنْ كَانَ مُرًّا. (رواه احمد)
Artinya: “Dari Abu Dzar r.a. berkata, Kekasihku Rasulullah Saw. memerintahkan kepadaku untuk mengatakan yang benar, walaupun itu pahit.” (H.R. Ahmad)
- Berani Menyimpan dan Menjaga Rahasia
Di era kemajuan teknologi informasi saat ini, menjaga rahasia menjadi perkara yang sangat penting namun semakin sulit dilakukan.
Keberanian dalam konteks ini adalah kekuatan hati untuk tidak mengkhianati amanah dengan menyebarkan aib atau informasi rahasia orang lain.
Hanya dalam hitungan detik, seseorang yang tidak amanah dapat merusak kehormatan orang lain melalui pesan berantai atau media sosial.
Oleh karena itu, kemampuan menahan diri untuk tetap diam adalah bentuk keberanian dalam menjaga kehormatan sesama dan keberlangsungan dakwah Islamiyah.
- Memiliki Daya Tahan Tubuh yang Kuat
Sikap berani harus diimbangi dengan ketangguhan fisik dan mental agar mampu menghadapi berbagai kesulitan serta penderitaan.
Daya tahan yang luar biasa ini pernah ditunjukkan oleh Bilal bin Rabah saat menghadapi siksaan kejam kaum Quraisy demi mempertahankan akidahnya.
Seorang Muslim modern yang membela kebenaran harus menyiapkan energi ekstra karena mereka mungkin akan mendapat tekanan atau ancaman fisik maupun psikis.
Tanpa fisik yang kuat dan mental yang tangguh, perjuangan dalam membela kebenaran akan mudah goyah saat menghadapi hambatan dari pihak yang tidak senang.
- Mampu Mengendalikan Hawa Nafsu
Rasulullah Saw. memberikan definisi baru tentang kepahlawanan, bahwa orang yang benar-benar kuat bukanlah mereka yang pandai berkelahi.
Seorang pemberani adalah mereka yang mampu mengendalikan hawa nafsunya saat amarah memuncak demi menghindari murka Allah Swt.
Contoh nyata adalah seorang penguasa yang memiliki kekuatan penuh untuk menindak tegas orang yang menghinanya, namun ia memilih untuk bersabar.
Keberanian untuk menahan diri dan tetap bertindak adil serta bijaksana bagi seluruh rakyatnya adalah tanda pemimpin yang berhasil menaklukkan nafsunya sendiri.
- Berani Mengakui Kesalahan
Mengakui kesalahan bukanlah persoalan yang mudah karena sering kali terhambat oleh rasa gengsi dan kesombongan diri.
Dibutuhkan jiwa yang besar dan hati yang lapang untuk tidak mencari-cari alasan atau justru menimpakan kesalahan tersebut kepada orang lain.
Sifat khilaf adalah sesuatu yang manusiawi, namun keberanian untuk meminta maaf dan bertaubat adalah amalan yang sangat mulia di mata Tuhan.
Hal ini sejalan dengan sabda Nabi Saw. yang diriwayatkan oleh Tirmidzi:
عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ. (رواه الترمذي)
Artinya: “Dari Anas r.a. berkata, Rasulullah Saw. bersabda: ‘Setiap anak Adam pernah berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah orang yang bertaubat dari kesalahannya’.” (H.R. Tirmidzi)
- Berani Objektif Menilai Diri Sendiri
Langkah terakhir yang sangat fundamental adalah keberanian untuk melakukan muhasabah atau introspeksi diri secara jujur.
Seorang Muslim harus lebih sibuk melihat kekurangan dirinya sendiri sebelum sibuk menilai dan menghakimi kekurangan orang lain.
Dengan bersikap objektif terhadap diri sendiri, kita akan lebih mengenali potensi, memahami kelemahan, serta mampu menentukan strategi yang tepat untuk sukses.
Sebagaimana kutipan Syekh Tajudin Ibnu ‘Athaillah dalam kitab Lathaif al Minan, mengenal kerendahan diri adalah jalan utama untuk mengenal kemuliaan Allah Swt.
Referensi:
Ahmad Taufik & Nurwastuti Setyowati. (2021). Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas X. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemendikbudristek. Cetakan Pertama. Halaman 222-225.
Tinggalkan Balasan