7 Keteladanan Para Ulama Penyebar Ajaran Islam di Indonesia

Keberhasilan Islam merasuk ke dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat Nusantara bukanlah sebuah kebetulan semata.

Hal ini merupakan buah dari strategi dakwah para ulama yang mengedepankan keteladanan nyata atau as-sirah an-nabawiyah.

Berikut adalah 7 keteladanan para ulama penyebar ajaran islam di Indonesia:

  1. Hidup Sederhana dan Bersahaja

Para ulama penyebar Islam di Indonesia umumnya adalah sosok yang memiliki pengaruh besar dan seringkali memiliki akses terhadap kekayaan yang melimpah.

Namun, mereka memilih gaya hidup yang sangat sederhana dan tidak membiarkan diri diperbudak oleh kemewahan duniawi.

Mereka mendahulukan kepentingan masyarakat dengan menyedekahkan harta mereka dan hanya mengambil secukupnya untuk kebutuhan pokok saja.

Keteladanan ini merujuk pada firman Allah Swt. dalam Q.S. al-Baqarah/2: 267:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنْفِقُوْا مِنْ طَيِّبٰتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّآ اَخْرَجْنَا لَكُمْ مِّنَ الْاَرْضِ ۗ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيْثَ مِنْهُ تُنْفِقُوْنَ وَلَسْتُمْ بِاٰخِذِيْهِ اِلَّآ اَنْ اَنْ تُغْمِضُوْا فِيْهِ ۗ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ حَمِيْدٌ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu. Janganlah kamu memilih yang buruk untuk kamu keluarkan, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata (enggan) terhadapnya. Dan ketahuilah bahwa Allah Mahakaya, Maha Terpuji.”

  1. Kegigihan dan Tekad Kuat dalam Berjuang

Menyebarkan agama di wilayah yang sangat luas dengan beragam tantangan alam, seperti hutan belantara dan lautan luas, membutuhkan kegigihan yang luar biasa.

Para ulama tidak pernah surut langkahnya meski menghadapi hambatan dakwah yang berat maupun ancaman dari pihak-pihak yang belum menerima kehadiran Islam.

Mereka memiliki optimisme tinggi bahwa setiap usaha keras dan pengorbanan panjang akan membuahkan hasil jika disertai dengan tekad yang bulat.

Semangat pantang menyerah ini sejalan dengan firman Allah dalam Q.S. ar-Ra’d/13: 11:

لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ يَحْفَظُوْنَهٗ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْ ۗ وَاِذَآ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْۤءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗ ۚ وَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّالٍ

Artinya: “Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”.

  1. Penguasaan Ilmu Agama yang Luas dan Mendalam

Para ulama tidak menyampaikan ajaran Islam secara sembarangan, melainkan berdasarkan pemahaman yang mumpuni melalui tahapan belajar yang jelas.

Banyak dari mereka yang menempuh perjalanan jauh ke pusat-pusat keilmuan Islam untuk berguru kepada para ahli yang memiliki sanad bersambung hingga ke Rasulullah Saw.

Penguasaan ilmu yang luas inilah yang membuat mereka mampu melakukan penyesuaian ajaran Islam dengan tradisi lokal secara bijaksana tanpa merusak nilai-nilai akidah.

Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah pada Q.S. at-Taubah/9: 122:

۞ وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُوْنَ لِيَنْفِرُوْا كَاۤفَّةً ۗ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَاۤئِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوْا فِي الدِّيْنِ وَلِيُنْذِرُوْا قَوْمَهُمْ اِذَا رَجَعُوْٓا اِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُوْنَ

Artinya: “Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya.”

  1. Produktivitas dalam Berkarya

Ulama Nusantara dikenal sangat produktif dalam menuangkan pemikiran mereka ke dalam bentuk kitab-kitab dan tulisan ilmiah.

Mereka meluangkan waktu dan tenaga secara sungguh-sungguh untuk mendokumentasikan ilmu pengetahuan agar dapat terus dipelajari oleh generasi penerus secara turun-temurun.

Karya-karya monumental tersebut merupakan wujud amal jariyah sekaligus kepedulian para ulama dalam menjaga akidah umat dari pengaruh ajaran yang menyesatkan.

Budaya literasi ini membuktikan bahwa mereka adalah intelektual yang visioner dan ingin menyelamatkan generasi mendatang melalui kekuatan ilmu pengetahuan.

  1. Kesabaran dalam Menghadapi Ujian

Proses dakwah di tengah keragaman budaya, etnis, dan tingkat pendidikan masyarakat menuntut tingkat kesabaran yang sangat tinggi.

Para ulama menghadapi setiap tantangan dan penolakan dengan sikap optimis serta tawakal kepada Allah Swt., tanpa menyimpan dendam di dalam hati.

Mereka memandang bahwa setiap ujian adalah jalan bagi mereka untuk menunjukkan kualitas iman dan menjadi teladan bagi hamba-hamba Allah yang bersungguh-sungguh.

Janji Allah bagi mereka yang memiliki sifat sabar ini tertuang dalam Q.S. az-Zumar/39: 10:

قُلْ يٰعِبَادِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوْا رَبَّكُمْ ۗ لِلَّذِيْنَ اَحْسَنُوْا فِيْ هٰذِهِ الدُّنْيَا hَسَنَةٌ ۗ وَاَرْضُ اللّٰهِ وَاسِعَةٌ ۗ اِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُوْنَ اَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Artinya: “Katakanlah (Muhammad), ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman! Bertakwalah kepada Tuhanmu.’ Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.”

  1. Menghargai Perbedaan dan Toleransi

Islam masuk ke Indonesia dengan prinsip tegas bahwa tidak ada paksaan dalam beragama, sehingga para ulama sangat menghargai setiap pilihan masyarakat.

Mereka menunjukkan sikap toleransi yang tinggi terhadap keberagaman suku, ras, maupun golongan, serta tidak pernah merendahkan keyakinan orang lain.

Sikap merasa paling hebat dihindari karena disadari sebagai sumber perpecahan, sehingga tercipta hubungan yang harmonis di tengah kemajemukan bangsa.

Semangat persatuan ini selaras dengan firman Allah Swt. dalam Q.S. al-Hujurat/49: 13:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤئِلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

Artinya: “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.”

  1. Strategi Dakwah secara Damai dan Santun

Nilai keteladanan yang paling krusial adalah cara penyampaian dakwah yang dilakukan dengan kelembutan, kasih sayang, dan tutur kata yang menyejukkan.

Para ulama menghindari cara-cara kekerasan atau paksaan karena tujuan utama mereka adalah menciptakan kehidupan masyarakat yang aman dan tenteram.

Mereka lebih mengutamakan pemberian nasihat yang baik atau mau’izatul hasanah demi menyentuh hati rakyat tanpa menimbulkan luka atau perlawanan.

Strategi agung ini berpedoman pada firman Allah dalam Q.S. an-Nahl/16: 125:

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ ۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.”

Referensi:

Ahmad Taufik & Nurwastuti Setyowati. (2021). Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas X. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemendikbudristek. Cetakan Pertama. Halaman 134-139.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *