Cinta kepada Allah Swt. atau mahabbatullah merupakan puncak tertinggi dari seluruh perasaan yang dimiliki oleh seorang hamba dalam perjalanan spiritualnya.
Sebagai dasar dari pengabdian, Allah Swt. telah memberikan gambaran mengenai karakteristik cinta ini melalui firman-Nya dalam Al-Qur’an Surah al-Baqarah ayat 165.
Adapun teks ayat tersebut adalah sebagai berikut:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ اَنْدَادًا يُّحِبُّوْنَهُمْ كَحُبِّ اللّٰهِ ۗ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَشَدُّ حُبًّا لِّلّٰهِ ۗ وَلَوْ يَرَى الَّذِيْنَ ظَلَمُوْٓا اِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ اَنَّ الْقُوَّةَ لِلّٰهِ جَمِيْعًا ۙ وَّاَنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعَذَابِ
Artinya: “Dan di antara manusia ada orang yang menyembah tuhan selain Allah sebagai tandingan, yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah. Sekiranya orang-orang yang berbuat zalim itu melihat, ketika mereka melihat azab (pada hari Kiamat), bahwa kekuatan itu semuanya milik Allah dan bahwa Allah sangat berat azab-Nya (niscaya mereka menyesal).”
Melalui ayat ini, kita memahami bahwa perbedaan mendasar antara orang mukmin sejati dengan yang lainnya terletak pada kemurnian dan besarnya rasa cinta kepada Sang Pencipta.
Seorang mukmin tidak akan menduakan Allah dengan tandingan apa pun, karena baginya, Allah adalah sumber segala kekuatan dan satu-satunya yang berhak menerima cinta tertinggi.
Manifestasi cinta ini kemudian diperjelas oleh Rasulullah Saw. melalui sebuah hadis yang menjelaskan tentang perasaan manis dan lezatnya iman di dalam hati.
Dari Anas r.a., dari Nabi Saw., beliau bersabda:
عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيْمَانِ، أَنْ يَكُوْنَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلّٰهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُوْدَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ. (متفق عليه)
Artinya: “Ada tiga hal di mana orang yang memilikinya akan merasakan manisnya iman, yaitu: mencintai Allah dan rasul-Nya melebihi segala-galanya, mencintai seseorang karena Allah, dan enggan untuk kembali kafir setelah diselamatkan oleh Allah daripadanya sebagaimana enggannya kalau dilemparkan ke dalam api.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menekankan bahwa mencintai Allah Swt. bukanlah sekadar ucapan lisan, melainkan sebuah prioritas mutlak yang melampaui kecintaan terhadap diri sendiri, keluarga, maupun harta benda.
Cinta yang benar adalah cinta yang mampu mengubah perspektif seseorang, di mana ia mencintai sesama manusia semata-mata karena dorongan ketaatan kepada Allah.
Selain itu, rasa cinta tersebut memberikan kekuatan bagi seorang mukmin untuk teguh dalam iman dan merasa sangat ngeri terhadap kekufuran, sebagaimana ngerinya seseorang jika dilempar ke api yang menyala.
Dengan memadukan pesan dari Surah al-Baqarah ayat 165 dan hadis tersebut, jelaslah bahwa cinta kepada Allah adalah energi penggerak yang membawa ketenangan dan manisnya hidup di dunia serta keselamatan di akhirat.
Cinta inilah yang dahulu dinyalakan oleh Rasulullah Saw. di hati para sahabat hingga mereka rela mengorbankan segalanya demi meraih rida Ilahi.
Referensi:
Ahmad Taufik & Nurwastuti Setyowati. (2021). Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas X. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemendikbudristek. Cetakan Pertama. Halaman 181-182.
Tinggalkan Balasan