Dalam ajaran Islam, sifat raja’ bukan sekadar teori, melainkan perintah yang bersumber langsung dari wahyu Ilahi dan sabda Rasulullah Saw.
Landasan utama sifat ini dapat kita temukan dalam Al-Qur’an Surat al-‘Ankabut/29: 5 yang berbunyi:
مَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاۤءَ اللّٰهِ فَاِنَّ اَجَلَ اللّٰهِ لَاٰتٍ ۗوَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
Artinya: “Barangsiapa mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah pasti datang. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”
Ayat ini memberikan kepastian bahwa harapan seorang hamba untuk bertemu dengan Tuhannya bukanlah kesia-siaan, melainkan janji yang pasti akan ditepati.
Selain itu, Allah Swt. juga mengingatkan hamba-Nya untuk menjauhi lawan dari sifat raja’, yaitu putus asa, sebagaimana terekam dalam Surat al-Hijr/15: 55-56 berikut:
قَالُوْا بَشَّرْنٰكَ بِالْحَقِّ فَلَا تَكُنْ مِّنَ الْقٰنِطِيْنَ – ٥٥ قَالَ وَمَنْ يَّقْنَطُ مِنْ رَّحْمَةِ رَبِّهٖٓ اِلَّا الضَّاۤلُّوْنَ – ٥٦
Artinya: “(Mereka) menjawab, ‘Kami menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan benar, maka janganlah engkau termasuk orang yang berputus asa.’ (55) Dia (Ibrahim) berkata, ‘Tidak ada yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang yang sesat.’ (56)”
Melalui ayat ini, kita diajarkan bahwa memelihara harapan adalah bagian dari hidayah, sedangkan berputus asa adalah ciri dari ketersesatan.
Selain ayat Al-Qur’an, landasan sifat raja’ juga diperkuat melalui lisan suci Rasulullah Saw. dalam sebuah hadits yang sangat menenangkan hati.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah Saw. bersabda mengenai tulisan Allah yang berada di atas ‘Arsy:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لَمَّا خَلَقَ اللَّهُ الْخَلْقَ كَتَبَ فِي كِتَابٍ، فَهُوَ عِنْدَهُ فَوْقَ الْعَرْشِ: إِنَّ رَحْمَتِي تَغْلِبُ غَضَبِي
Artinya: “Ketika Allah menciptakan makhluk, Ia menulis pada suatu kitab, yang mana kitab itu berada di sisi-Nya di atas ‘Arsy, yaitu tulisan yang berbunyi: ‘Sesungguhnya rahmat-Ku itu mengalahkan murka-Ku.’” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadits qudsi ini menjadi alasan terkuat mengapa seorang hamba tidak boleh kehilangan optimisme dalam mencari ampunan Allah.
Meskipun manusia sering terjatuh dalam dosa, pintu harapan selalu terbuka lebar karena sifat pengasih Allah jauh lebih luas daripada kemurkaan-Nya.
Namun, perlu diingat kembali bahwa semua dalil di atas menuntut pembuktian melalui amal saleh, bukan sekadar kata-kata tanpa perbuatan.
Referensi:
Ahmad Taufik & Nurwastuti Setyowati. (2021). Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas X. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemendikbudristek. Cetakan Pertama. Halaman 188-190.
Tinggalkan Balasan