Tawakal merupakan salah satu pilar utama dalam akhlak Islam yang mengajarkan ketergantungan mutlak seorang hamba kepada Sang Pencipta.
Rasulullah Saw. senantiasa menganjurkan umatnya untuk menerapkan sikap ini dalam setiap sendi kehidupan sehari-hari sebagai bentuk pengabdian yang tulus.
Sikap tawakal ini pula yang ditanamkan secara mendalam kepada para sahabat Nabi, sehingga mereka terbiasa menghadapi berbagai dinamika dan permasalahan hidup dengan jiwa yang tenang.
Keberhasilan Nabi Saw. dalam memberikan contoh perilaku yang dihiasi dengan tawakal menjadi bukti nyata bahwa kepasrahan kepada Allah mampu menghalau rasa khawatir dan gelisah.
Salah satu landasan utama mengenai ketetapan ini tertuang dalam Al-Qur’an, tepatnya pada Surah ar-Ra’d ayat 30 yang berbunyi:
كَذَٰلِكَ أَرْسَلْنَاكَ فِي أُمَّةٍ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهَا أُمَمٌ لِتَتْلُوَ عَلَيْهِمُ الَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَهُمْ يَكْفُرُونَ بِالرَّحْمَٰنِ ۚ قُلْ هُوَ رَبِّي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ مَتَابِ
Artinya: “Demikianlah, Kami telah mengutus engkau (Muhammad) kepada suatu umat yang sungguh sebelumnya telah berlalu beberapa umat, agar engkau bacakan kepada mereka (Al-Qur’an) yang Kami wahyukan kepadamu, padahal mereka ingkar kepada Tuhan Yang Maha Pengasih. Katakanlah, ‘Dia Tuhanku, tidak ada tuhan selain Dia; hanya kepada-Nya aku bertawakal dan hanya kepada-Nya aku bertobat.’” (Q.S. ar-Ra’d/13: 30).
Secara bahasa, tawakal memiliki makna memasrahkan, menanggungkan, mewakilkan, atau menyerahkan segala urusan kepada pihak lain.
Secara istilah, tawakal berarti menyerahkan segala permasalahan kepada Allah Swt. setelah seseorang melakukan usaha atau ikhtiar dengan sekuat tenaga.
Oleh karena itu, seseorang yang bertawakal adalah mereka yang mewakilkan hasil usahanya kepada Allah Swt. sebagai zat yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Kepasrahan ini tidak akan menyisakan rasa sedih atau kecewa di dalam hati, apa pun keputusan yang nantinya diberikan oleh Allah Swt.
Namun, terdapat kekeliruan di sebagian kalangan dalam memahami konsep tawakal, di mana mereka sering kali pasrah secara total tanpa melakukan ikhtiar terlebih dahulu.
Pemikiran yang menganggap bahwa seseorang bisa menjadi kaya tanpa bekerja atau menjadi pintar tanpa belajar hanya karena berharap pada kehendak Allah adalah sikap yang salah.
Rasulullah Saw. meluruskan pemahaman ini melalui sebuah hadits yang diriwayatkan dari Umar r.a. berikut ini:
عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا
Artinya: “Dari Umar r.a. berkata: ‘Saya mendengar Rasulullah Saw. bersabda: Seandainya kamu sekalian benar-benar tawakal kepada Allah niscaya Allah akan memberi rezeki kepadamu sebagaimana Ia memberi rezeki kepada burung, di mana burung itu keluar pada waktu pagi dengan perut kosong (lapar) dan pada waktu sore ia kembali dengan perut kenyang.’” (HR. Turmudzi).
Hadits ini menekankan bahwa burung sekalipun tetap “keluar” atau berikhtiar untuk mencari makan, bukan hanya diam menunggu di dalam sarangnya.
Hal ini dipertegas dengan kisah seorang sahabat yang datang menemui Nabi Saw. tanpa mengikat untanya karena merasa sudah bertawakal kepada Allah Swt.
Melihat hal tersebut, Rasulullah Saw. langsung meluruskan kesalahan logika itu dengan bersabda: “Ikatlah terlebih dahulu untamu, kemudian setelah itu bertawakallah kepada Allah Swt.”
Dengan menerapkan tawakal yang benar, akan tumbuh keyakinan kuat di dalam diri bahwa tidak ada satu pun amal kebaikan yang akan berakhir sia-sia.
Seorang hamba menyadari bahwa urusan diterima atau ditolaknya suatu amal adalah hak penuh Allah Swt., sementara tugas hamba hanyalah beramal sebaik-baiknya.
Meskipun harapan atas sebuah pencapaian belum tercapai secara sempurna, sifat tawakal akan menjaga semangat seseorang agar tidak pernah padam.
Referensi:
Ahmad Taufik & Nurwastuti Setyowati. (2021). Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas X. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemendikbudristek. Cetakan Pertama. Halaman 192-193.
Tinggalkan Balasan