Definisi Cinta kepada Allah Swt.

Cinta merupakan sebuah perasaan yang suci dan lembut, sebuah getaran kasih sayang yang secara alamiah ditandai dengan munculnya rasa rindu yang mendalam kepada pihak yang dicintai.

Dalam pandangan Islam, tingkatan cinta yang paling tinggi dan hakiki adalah cinta kepada Allah Swt., atau yang sering disebut dengan istilah mahabbatullah.

Secara esensial, cinta kepada Allah Swt. (mahabbatullah) adalah menempatkan Allah Swt. di dalam relung hati sanubari yang paling dalam, menjadikan-Nya sebagai poros utama dari segala perasaan dan tindakan.

Cinta kepada-Nya bukan sekadar perasaan pasif, melainkan unsur terpenting dalam ibadah yang harus bersandingan dengan perasaan khauf (takut akan murka-Nya) dan raja’ (harap akan rahmat-Nya).

Ketiga perasaan ini cinta, takut, dan harap merupakan pilar emosional yang wajib dimiliki oleh setiap mukmin dalam menjalankan pengabdian serta ibadah kepada Allah Swt. agar tetap seimbang.

Cinta seorang hamba kepada Sang Pencipta tidak tumbuh secara instan, melainkan hasil dari pengaruh akal dan jiwa yang kuat melalui proses berpikir mendalam terhadap kekuasaan-Nya di langit dan bumi.

Perasaan cinta ini akan semakin menggelora dan mengakar kuat ketika seseorang rajin merenungkan ayat-ayat suci Al-Qur’an serta membiasakan diri berzikir menyebut nama dan sifat-sifat mulia Allah Swt.

Kesempurnaan iman seseorang mustahil dicapai tanpa mengenal keagungan Allah Swt., merasakan kebaikan-Nya yang tak terhingga, serta mengakui setiap nikmat yang telah diberikan-Nya secara tulus.

Hal ini dipertegas oleh Allah Swt. dalam Al-Qur’an Surah al-Baqarah ayat 165 yang menjelaskan perbedaan mencolok antara orang musyrik yang mencintai tandingan-tandingan Allah dan orang yang beriman.

Dalam ayat tersebut dinyatakan bahwa orang-orang yang beriman memiliki cinta yang sangat besar dan sangat kuat kepada Allah Swt. melampaui segala sesuatu yang ada di dunia ini.

Ketika cinta kepada Allah Swt. telah menghujam dan membakar kuat dalam jiwa seseorang, maka energi tersebut akan memberikan pengaruh yang luar biasa terhadap seluruh sendi kehidupannya.

Segala sesuatu dalam hidup akan terasa lebih indah karena adanya kacamata kasih sayang kepada Allah, dan hamba tersebut akan mulai merasakan apa yang disebut dengan “manisnya iman”.

Sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Anas r.a., Rasulullah Saw. menyebutkan bahwa manisnya iman hanya bisa dirasakan oleh mereka yang memiliki tiga perkara utama.

Perkara pertama adalah mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi segala-galanya, kedua adalah mencintai seseorang semata-mata karena Allah, dan ketiga adalah enggan kembali kepada kekufuran.

Keteguhan untuk tidak kembali kufur digambarkan dengan sangat ekstrem, yakni seperti keengganan seseorang jika dirinya dilemparkan ke dalam kobaran api yang menyala-nyala.

Rasulullah Saw. sendiri telah berhasil menyalakan api cinta ini di hati para sahabatnya, hingga mereka lebih mencintai Allah Swt. dibandingkan mencintai diri mereka sendiri maupun keluarganya.

Berlandaskan cinta inilah, para sahabat Nabi rela mengorbankan harta, kedudukan, bahkan jiwa mereka demi menggapai rida Allah Swt. sebagai tujuan akhir yang paling mulia.

Referensi:

Ahmad Taufik & Nurwastuti Setyowati. (2021). Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas X. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemendikbudristek. Cetakan Pertama. Halaman 181-182.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *