Definisi Tawakal Secara Bahasa dan Istilah

Tawakal merupakan salah satu pilar akhlak yang sangat ditekankan oleh Rasulullah Saw. kepada seluruh umatnya untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sikap mulia ini bukan hanya sekadar teori, melainkan praktik nyata yang telah dicontohkan oleh para sahabat Nabi Saw. dalam menghadapi berbagai problematika hidup.

Keberhasilan Nabi Saw. dalam membimbing para sahabat terlihat dari ketenangan jiwa mereka yang tidak lagi dirundung rasa khawatir dan gelisah yang berlebihan.

Secara bahasa, kata tawakal memiliki arti memasrahkan, menanggungkan sesuatu, mewakilkan, atau menyerahkan urusan kepada pihak lain.

Namun, secara istilah, tawakal adalah menyerahkan segala permasalahan kepada Allah Swt. setelah seseorang melakukan usaha dengan sekuat tenaga.

Definisi ini menegaskan bahwa tawakal adalah bentuk kepasrahan kepada Zat Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, tanpa menyisakan rasa sedih atau kecewa atas keputusan yang diberikan-Nya.

Satu hal yang perlu digarisbawahi adalah adanya kekeliruan sebagian orang dalam memahami hakikat tawakal yang sebenarnya.

Sebagian orang menganggap bahwa pasrah secara total kepada Allah Swt. berarti tidak perlu melakukan ikhtiar atau usaha sama sekali di awal.

Pandangan keliru ini membuat seseorang enggan bekerja dengan harapan Allah akan menjadikannya kaya, atau enggan belajar dengan harapan Allah akan menjadikannya pintar secara instan.

Padahal, tawakal yang benar justru mewajibkan adanya ikhtiar yang sungguh-sungguh sebagai syarat utama sebelum menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah Swt.

Rasulullah Saw. mengilustrasikan tawakal yang sejati melalui perumpamaan seekor burung yang keluar di pagi hari dengan perut kosong dan kembali di sore hari dalam keadaan kenyang.

Perumpamaan ini mengajarkan bahwa burung tersebut tetap “berusaha” keluar dari sarangnya untuk mencari makan, bukan hanya diam menunggu makanan datang.

Begitu pula dengan sebuah kisah saat seorang sahabat datang menemui Nabi tanpa mengikat untanya karena merasa sudah bertawakal kepada Allah Swt.

Mendengar hal itu, Rasulullah Saw. langsung meluruskan pemahaman tersebut dengan bersabda agar sahabat itu mengikat untanya terlebih dahulu, baru kemudian bertawakal.

Seseorang yang benar-benar menerapkan sikap tawakal akan memiliki keyakinan kokoh bahwa tidak ada satu pun amal kebaikan yang ia lakukan akan menjadi sia-sia.

Ia memahami bahwa urusan diterima atau ditolaknya suatu amal merupakan hak prerogatif Allah Swt., sementara tugas hamba hanyalah beramal sebaik-baiknya.

Meskipun harapan atas amal kebaikannya belum tercapai secara sempurna di dunia, seorang yang bertawakal akan tetap memiliki semangat yang tinggi dan hati yang lapang.

Referensi:

Ahmad Taufik & Nurwastuti Setyowati. (2021). Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas X. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemendikbudristek. Cetakan Pertama. Halaman 192-193.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *