Hadits Tentang Berani Membela Kebenaran

Dalam ajaran Islam, keberanian bukan sekadar kekuatan fisik atau nyali yang besar dalam menghadapi musuh di medan perang.

Sifat berani ini dikenal dengan istilah Syaja’ah (الشَّجَاعَةُ), yang secara bahasa berarti berani atau gagah.

Namun, jika kita menelaah lebih dalam secara istilah, syaja’ah adalah keteguhan hati dan kekuatan pendirian untuk membela kebenaran dengan cara yang ksatria serta terpuji.

Sifat ini merupakan cerminan dari suasana batiniah seseorang yang kemudian direalisasikan dalam sikap lahiriah yang nyata.

Seseorang yang memiliki sifat syaja’ah akan berani mengambil tindakan dengan penuh keyakinan dan siap menanggung segala risiko yang menyertainya.

Penting untuk digarisbawahi bahwa keputusan untuk berani mengambil tindakan harus senantiasa dilandaskan pada nilai kebenaran dan keadilan.

Keberanian tersebut harus sesuai dengan norma agama, adat istiadat, serta hukum positif yang berlaku, dengan tujuan utama untuk mendapatkan rida dari Allah Swt.

Untuk memahami hakikat keberanian yang proporsional, kita perlu mengenal dua kutub ekstrem yang menjadi lawan katanya.

Lawan kata pertama dari syaja’ah adalah Jubun (الْجُبْنُ), yang artinya penakut atau pengecut.

Sifat jubun membuat seseorang cenderung lemah dan tidak berdaya untuk mempertahankan hak atau kebenaran karena dibayangi oleh rasa takut yang berlebihan.

Sebaliknya, terdapat sifat Tahawwur (التَّهَوُّرُ), yang berarti nekat atau berani secara membabi buta.

Tahawwur terjadi ketika keberanian tidak lagi didasari oleh pertimbangan akal sehat dan iman, melainkan didorong oleh keras kepala dan hati yang keras.

Oleh karena itu, syaja’ah berada di titik tengah; ia adalah keberanian yang bijaksana, bukan ketakutan yang melumpuhkan dan bukan pula kenekatan yang merugikan.

Seorang pemberani (Syaji’) adalah orang yang tidak takut menghadapi apa pun demi membela kebenaran, siap menerima risiko, namun di saat yang sama ia tetap takut untuk berbuat kesalahan atau dosa.

Sedangkan seorang penakut adalah mereka yang justru merasa takut untuk membela kebenaran, padahal agama memerintahkan setiap Muslim untuk hanya takut kepada Allah Swt.

Dalam hal menyampaikan dan menegakkan kebenaran, Rasulullah Saw. adalah teladan terbaik yang tidak ada tandingannya.

Beliau tidak pernah merasa gentar sedikit pun terhadap musuh-musuh yang berupaya menghalang-halangi dakwahnya dalam menegakkan kebenaran di muka bumi.

Sikap inilah yang seharusnya diteladani oleh setiap Muslim, karena sesungguhnya tidak ada kekuatan di dunia ini yang sanggup mendatangkan manfaat atau mudarat kecuali atas izin Allah Swt.

Membela kebenaran adalah tugas mulia yang akan terus berlanjut hingga akhir zaman, sebagaimana ditegaskan dalam sebuah hadits berikut ini:

عَنْ الْمُغِيْرَةِ بْنِ شُعْبَةَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ لَا يَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ حَتَّى يَأْتِيَهُمْ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ ظَاهِرُونَ. (رواه البخاري)

Artinya: “Dari Al-Mughirah bin Syu’bah, dari Nabi Saw. beliau bersabda: ‘Akan senantiasa ada dari golongan umatku yang membela kebenaran hingga ketetapan Allah Swt. datang kepada mereka, dan mereka dalam keadaan menang’.” (H.R. Bukhari)

Hadits ini memberikan motivasi besar bagi setiap Muslim bahwa mereka yang berdiri tegak membela kebenaran tidak akan pernah benar-benar kalah.

Meskipun dalam perjalanannya mereka menghadapi tantangan atau tekanan, janji Allah adalah kemenangan dan kemuliaan, baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Referensi:

Ahmad Taufik & Nurwastuti Setyowati. (2021). Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas X. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemendikbudristek. Cetakan Pertama. Halaman 221-222.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *