Teori Masuknya Islam ke Indonesia Menurut Buya Hamka

Diskursus mengenai sejarah awal kedatangan Islam di Nusantara memiliki satu perspektif yang sangat kuat dan berakar pada identitas keislaman murni, yaitu Teori Makkah.

Teori ini secara gigih diusung dan dipopulerkan oleh ulama besar sekaligus sejarawan terkemuka Indonesia, Prof. Dr. Buya Hamka.

Dalam pandangannya, Buya Hamka menolak keras anggapan bahwa Islam masuk ke Indonesia melalui perantara pedagang dari Gujarat, India.

Ia berkeyakinan penuh bahwa agama Islam datang ke Nusantara langsung dari pusatnya di tanah Arab, dibawa oleh para musafir dan pedagang Arab yang memiliki misi dakwah.

Sebagai landasan ilmiah untuk memperkuat argumennya, Buya Hamka merujuk pada bukti sejarah yang sangat tua, yakni Berita Cina Dinasti Tang.

Berdasarkan catatan dari Tiongkok tersebut, ditemukan fakta otentik mengenai keberadaan pemukiman saudagar Arab di wilayah pantai barat Sumatera.

Temuan ini membawa Buya Hamka pada sebuah kesimpulan besar bahwa Islam telah menjejakkan kakinya di Nusantara jauh lebih awal dari dugaan banyak orientalis Barat, yakni pada abad ke-7 Masehi.

Hal ini menunjukkan bahwa hubungan spiritual dan perdagangan antara bangsa Arab dan penduduk lokal di Indonesia sudah terjalin sejak masa awal keemasan Islam.

Bagi Buya Hamka, keberadaan Kerajaan Samudra Pasai yang muncul pada abad ke-13 Masehi bukanlah titik awal masuknya Islam.

Ia menegaskan bahwa berdirinya kerajaan tersebut merupakan fase kristalisasi dan perkembangan kekuatan politik Islam yang sebenarnya sudah lama mengakar di tengah masyarakat.

Oleh karena itu, Samudra Pasai dipandang sebagai buah dari proses panjang dakwah yang telah berlangsung selama berabad-abad sejak kedatangan pertama para pedagang Arab.

Teori Makkah ini memberikan kebanggaan tersendiri bagi sejarah Indonesia, karena menempatkan Nusantara sebagai wilayah yang memiliki hubungan langsung dengan pusat peradaban Islam sejak masa awal.

Referensi:

Ahmad Taufik & Nurwastuti Setyowati. (2021). Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas X. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemendikbudristek. Cetakan Pertama. Halaman 127.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *