Sultan Zainal Abidin merupakan tokoh pembaru yang sangat berpengaruh dalam sejarah Islamisasi di wilayah timur Nusantara, khususnya di Kesultanan Ternate.
Beliau memegang tampuk kekuasaan sebagai pemimpin Ternate pada kurun waktu antara tahun 1486 hingga 1500 Masehi.
Fondasi keagamaan beliau telah terbentuk kuat sejak usia belia, di mana beliau mendapatkan pendidikan agama secara langsung dari ayahnya serta seorang ulama ternama, Datuk Maulana Hussein.
Setelah dinobatkan menjadi raja, Sultan Zainal Abidin mengambil langkah besar dengan menjadikan Islam sebagai landasan resmi dalam tata kelola bernegara.
Keputusan visioner ini secara resmi mengubah identitas politik wilayah tersebut dari yang semula berbentuk kerajaan menjadi Kesultanan Ternate.
Haus akan ilmu pengetahuan agama, pada tahun 1494 Masehi, Sultan Zainal Abidin memutuskan untuk melakukan perjalanan jauh ke Pulau Jawa.
Tujuan utama beliau adalah untuk memperdalam pemahaman keislamannya di Pesantren Sunan Giri yang terletak di Jawa Timur, yang pada masa itu merupakan pusat keunggulan pendidikan Islam.
Sekembalinya dari Jawa, beliau membawa semangat baru dan mengajak ulama-ulama terkemuka, termasuk Tuhubahanul, untuk berkolaborasi dalam misi dakwah di seluruh wilayah Maluku.
Salah satu pilar penting dalam strategi dakwah Sultan Zainal Abidin adalah pembangunan infrastruktur pendidikan melalui pendirian berbagai pesantren.
Uniknya, beliau mendatangkan tenaga pengajar profesional secara langsung dari Pulau Jawa untuk memastikan kualitas pendidikan agama yang mumpuni bagi rakyatnya.
lhah itu, beliau juga melakukan inovasi struktural dengan mendirikan jabatan Jolebe atau Bobato Akhirat di lingkungan istana.
Jabatan ini memiliki fungsi krusial untuk mendampingi dan membantu Sultan dalam mengawasi jalannya pelaksanaan syariat Islam di lingkungan Kesultanan Ternate agar tetap sesuai koridor agama.
Berkat konsistensi dan gerakan islamisasi yang terorganisir dengan baik, jejak langkah Sultan Zainal Abidin ini kemudian menjadi inspirasi bagi raja-raja lain di wilayah Maluku untuk mengikuti hal serupa.
Keberhasilan beliau menjadikan Ternate sebagai pusat dakwah bukan hanya mengubah wajah religi setempat, melainkan juga memperkokoh persaudaraan Islam di wilayah timur Indonesia hingga saat ini.
Referensi:
Ahmad Taufik & Nurwastuti Setyowati. (2021). Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas X. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemendikbudristek. Cetakan Pertama. Halaman 132.