Perkembangan Peserta Didik yang Mengalami Ribut Dikelas dan Bulying

Ditulis oleh

di

Bagaimana Perkembangan Peserta Didik yang mengalami masalah-masalah dalam kehidupannya, seperti.

a. Ribut di kelas

b. Bulying

Berikut adalah argumen serta analisis saya mengenai perkembangan peserta didik yang mengalami masalah dalam kehidupannya, khususnya terkait perilaku ribut di kelas dan perundungan (bullying).

a. Perkembangan Peserta Didik dengan Masalah Ribut di Kelas
Menurut pandangan saya, perilaku peserta didik yang sering membuat keributan di dalam kelas merupakan sebuah sinyal adanya hambatan pada perkembangan emosi dan sosialnya.

Saya melihat bahwa tindakan ini sering kali menjadi mekanisme koping atau cara anak untuk mencari perhatian (attention-seeking behavior) akibat kurangnya apresiasi di lingkungan keluarga atau sekolah.

Ketika seorang anak gagal mendapatkan pengakuan secara positif, ia akan memilih jalur negatif untuk memastikan keberadaannya diakui oleh guru maupun teman sebaya.

Dari aspek kognitif, konsentrasi belajar anak yang gemar ribut biasanya akan mengalami penurunan drastis karena fokusnya terbagi untuk menciptakan distraksi.

Jika hal ini dibiarkan tanpa adanya intervensi, saya khawatir hambatan ini akan terbawa hingga fase perkembangan berikutnya, di mana anak kesulitan membangun regulasi diri (self-regulation) yang baik.

Pernyataan ini sejalan dengan teori perkembangan sosioemosional dari Erikson, yang menyatakan bahwa kegagalan anak dalam menguasai kemampuan akademik dan sosial di sekolah dapat menimbulkan rasa rendah diri (inferiority).

Untuk memperkuat argumen ini, Santrock (2018) dalam bukunya Educational Psychology menjelaskan bahwa kegagalan regulasi diri di kelas berkorelasi erat dengan rendahnya pencapaian akademik dan penyesuaian sosial yang buruk di masa depan.

b. Perkembangan Peserta Didik dengan Masalah Perundungan (Bullying)
Kasus perundungan, baik dari sudut pandang korban maupun pelaku, memberikan dampak yang sangat mendalam bagi trayektori perkembangan seorang peserta didik.

Bagi peserta didik yang menjadi korban, saya berpendapat bahwa trauma psikologis yang dialami dapat merusak konsep diri (self-concept) dan memicu gangguan kecemasan yang hebat.

Anak yang menjadi korban cenderung menarik diri dari pergaulan, mengalami penurunan motivasi belajar, bahkan menunjukkan gejala depresi yang menghambat fungsi perkembangan sosialnya.

Di sisi lain, bagi peserta didik yang menjadi pelaku, perilaku agresif ini mencerminkan adanya salah suai (maladjustment) dalam perkembangan moral dan empati.

Saya menilai pelaku perundungan sering kali mengadopsi perilaku tersebut dari pola asuh yang otoriter atau paparan kekerasan di lingkungan sekitarnya.

Jika tindakan agresif ini tidak segera ditangani, pelaku berpotensi tumbuh menjadi pribadi yang antisosial dan mengalami kesulitan dalam mempertahankan hubungan interpersonal yang sehat saat dewasa.

Hal ini didukung oleh penelitian dari Coloroso (2015) dalam bukunya The Bully, the Bullied, and the Bystander, yang mengemukakan bahwa siklus kekerasan ini merusak kesejahteraan psikologis (psychological well-being) korban dan memperkuat perilaku menyimpang pada pelaku.

Olweus (2013) juga menegaskan bahwa korban perundungan memiliki risiko jangka panjang terhadap kesehatan mental, sementara pelaku memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk terlibat dalam tindakan kriminalitas di masa dewasa.

Ingin belajar bahasa inggris online dari nol secara gratis? Yuk, mulai belajar sekarang! Tersedia sertifikat (opsional) bagi yang membutuhkan.

📊 Lihat Daftar Pelajaran

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *